Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!

Kabarmaung.com - Kabar gembira datang untuk seluruh pecinta sepak bola Indonesia, khususnya Bobotoh! PSSI dikabarkan tengah menggodok rencana besar untuk secara bertahap menghapus larangan Suporter tamu di stadion. Kebijakan ini disambut dengan sangat positif oleh salah satu kelompok suporter terbesar Persib Bandung, Viking Persib Club (VPC). Mereka menilai bahwa aturan larangan away yang selama ini diterapkan terbukti tidak efektif dan justru malah membebani klub dengan sanksi denda yang tidak sedikit.

PSSI Berencana Cabut Larangan Away, Viking Sambut Antusias

Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap wacana ini. Menurutnya, kehadiran suporter di kandang lawan bukan hanya sekadar memberikan dukungan teknis bagi tim kebanggaan, melainkan juga sebuah instrumen vital untuk mempererat tali silaturahmi antar-kelompok suporter di Indonesia. "Sangat menyambut baik ya kalau memang itu benar terjadi. Karena kan bagaimanapun away itu sarana silaturahmi untuk mendekatkan antar suporter sebenarnya," kata Tobias Ginanjar, menunjukkan antusiasmenya.

Pandangan ini menyoroti esensi persaudaraan dalam sepak bola yang kerap terlupakan di tengah regulasi ketat. Bagi Viking, momen tandang adalah kesempatan emas untuk menunjukkan dukungan sekaligus menjalin koneksi positif dengan suporter dari tim lain, sebuah praktik yang sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya sepak bola global.

Larangan Tak Efektif, Klub Kena Denda Terus

Tobias juga menyoroti realitas pahit di lapangan. Selama ini, meskipun larangan away telah diberlakukan, Bobotoh maupun suporter dari klub lain kerap kali tetap nekat melakukan perjalanan tandang. Fenomena ini pada akhirnya hanya berujung pada kerugian finansial bagi klub akibat denda yang dijatuhkan oleh operator Liga. "Karena kan sekarang juga larangan away ada tapi kenyataannya di lapangan orang away-away aja, jadi buat apa bikin aturan tersebut kalau memang tidak efektif gitu. Jadi sudah benar sekali kalau memang mau dicabut," tegas Tobias, menggambarkan inefektivitas regulasi yang ada.

Denda yang harus ditanggung klub akibat pelanggaran ini seringkali mencapai angka fantastis, menguras kas klub yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan tim atau fasilitas. Pencabutan larangan ini diharapkan dapat mengakhiri siklus denda tak berujung yang merugikan klub-klub peserta liga.

Mitigasi Keamanan Bukan Alasan, Koordinasi Kunci Utama

Potensi gangguan keamanan seringkali menjadi alasan utama di balik larangan suporter tandang. Namun, Tobias berpendapat bahwa masalah keamanan bukan alasan tunggal untuk menutup pintu bagi suporter tamu. Ia meyakini bahwa aparat keamanan memiliki kapabilitas untuk memetakan risiko serta menentukan kelayakan sebuah pertandingan dihadiri pendukung lawan. "Karena ada aparat keamanan, ada koordinasi awal sebelum pertandingan dan lain sebagainya, kan pasti aparat keamanan punya pertimbangan lah apakah suporter tersebut boleh datang atau tidak," ujarnya.

Viking sangat berharap pencabutan aturan ini akan dibarengi dengan penguatan koordinasi yang solid antara PSSI, PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), klub, suporter, hingga pihak kepolisian. Kolaborasi ini dianggap krusial untuk merumuskan mekanisme keberangkatan yang aman dan nyaman bagi semua pihak. "Tinggal bagaimana PSSI berkoordinasi atau iLeague, PSSI, klub, suporter saling berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membuat skema away yang aman dan bisa aman buat semuanya gitu aja sih kalau dari saya," tambahnya.

Tobias bahkan mencontohkan standar sepak bola internasional, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia, di mana suporter dari berbagai negara bisa berada dalam satu stadion dengan aman berkat manajemen risiko yang matang. "Da dari zaman dulu juga away ada dan kita ini lagi Piala Dunia sekarang kita lihat orang-orang di berbagai macam dunia juga bisa nonton di satu tribun tidak dilarang," terangnya. Ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan dan mitigasi yang tepat, kerusuhan bisa diminimalisir.

Sejalan dengan Kampanye 'No Denda' Viking

Kebijakan pencabutan larangan away ini juga dinilai sangat selaras dengan kampanye "No Denda" atau "Zero Denda" yang sedang diusung Viking untuk musim 2026/2027. Tobias melihat bahwa selama larangan away masih berlaku, risiko denda akan terus membayangi klub karena antusiasme Bobotoh untuk mendukung Persib secara langsung, di mana pun mereka bermain, sangat sulit untuk dibendung. "Dan ini juga kan sejalan ya sama kampanye yang mau kita gaungkan di musim ini bahwa kita kan mau gaungkan no denda atau zero denda. Nah cuma kan kalau ada larangan away bagaimanapun pasti ada denda aja, da Bobotoh mah nggak akan bisa dilarang ya untuk menonton Persib gitu," ungkapnya.

Mengenai wacana tanggung jawab penuh klub atas pelanggaran suporter di laga tandang, Tobias menganggap hal itu bukan perkara baru. Ia menyebut bahwa tanggung jawab klub terhadap perilaku pendukungnya sudah melekat dalam regulasi kompetisi yang ada. "Jadi kan sebenarnya memang tanpa harus ada dicabut atau nggak itu mah sudah melekat kepada klub bahwa perilaku suporter itu ada tanggung jawab juga dari klubnya. Tapi kan bentuk tanggung jawabnya berupa edukasi dan lain sebagainya kan sebenarnya mah udah ada aturannya," jelasnya.

Tobias juga mengingatkan agar suporter tidak melulu dijadikan kambing hitam saat terjadi insiden. Ia mendesak pihak penyelenggara dan keamanan untuk lebih serius dalam melakukan mitigasi. Dengan demikian, diharapkan seluruh elemen sepak bola dapat bekerja sama menciptakan atmosfer pertandingan yang kondusif dan menjunjung tinggi sportivitas.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
  • Larangan Away Dicabut PSSI? Viking Sambut Gembira!
Posting Komentar
Tutup Iklan