Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya

Kabarmaung.com - Persib Bandung, klub kebanggaan Jawa Barat, selalu memiliki magnet tersendiri bagi setiap pesepak bola. Dari sekian banyak bintang yang bersinar di bawah panji Maung Bandung, ada kisah-kisah di balik layar yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah perjalanan seorang Kiper yang berhasil menuntaskan mimpi masa kecilnya, meski tak pernah mencicipi satu menit pun di lapangan resmi. Ini adalah kisah Imam Arief Fadillah, sang penjaga gawang dari Tasikmalaya.

Persib dan Deretan Penjaga Gawang Legendarisnya

Persib Bandung selalu identik dengan ketangguhan di bawah mistar gawang. Sejak era keemasan hingga modern, Maung Bandung tak pernah kehabisan sosok penjaga gawang berkelas. Nama-nama seperti Sobur, Anwar Sanusi, dan Cecep Supriatna adalah legenda yang namanya harum di hati Bobotoh. Di era yang lebih modern, kita mengenal I Made Wirawan dan Teja Paku Alam sebagai benteng terakhir yang kokoh menjaga gawang Persib, tak ketinggalan pula kiper asing sekaliber Sinthaweechai Hathairattanakool hingga Kevin Ray Mendoza.

Namun, di antara deretan nama besar tersebut, terselip sebuah kisah inspiratif dari seorang anak Jawa Barat yang berhasil meraih mimpinya. Bukan dengan gemuruh tepuk tangan di lapangan, melainkan dengan kebanggaan yang lebih personal. Dialah Imam Arief Fadillah, putra Tasikmalaya yang meniti jalan panjang demi mengenakan seragam kebanggaan Persib.

Dari Striker Menjelma Kiper: Jejak Awal Impian Imam Arief

Lahir di Tasikmalaya pada 14 Desember 1989, Imam Arief Fadillah tumbuh besar dengan Persib sebagai bagian tak terpisahkan dari mimpinya. Sejak kecil, ia adalah Bobotoh sejati yang tak pernah absen menyaksikan setiap laga Maung Bandung. Terinspirasi oleh ketangguhan Cecep Supriatna dan Anwar Sanusi, benih-benih cita-cita menjadi pemain sepak bola, khususnya penjaga gawang, mulai tumbuh di hatinya.

"Menjadi pemain bola memang cita-cita saya dari kecil. Saya banyak menonton Persib waktu dulu, zamannya Cecep Supriatna dan Anwar Sanusi. Dari situ saya terinspirasi menjadi pemain sepak bola, khususnya di posisi penjaga gawang," kenang Imam dalam sebuah wawancara yang diunggah kanal YouTube resmi Persib Bandung saat ia pertama kali bergabung pada tahun 2017.

Menariknya, jalur Imam menuju posisi kiper tidaklah lurus. Saat remaja, ia justru memulai kariernya sebagai seorang penyerang. Namun, takdir berkata lain. Berkat postur tubuhnya yang menjulang hingga 180 sentimeter, ia mendapat kesempatan emas yang mengubah segalanya.

"Saya usia 12 sampai 15 tahun bermain sebagai striker. Tapi waktu ada pertandingan di Priangan Timur, tim kami tidak punya kiper. Kebetulan saya yang paling tinggi, akhirnya ditempatkan menjadi penjaga gawang. Alhamdulillah kami juara dan saya menjadi kiper terbaik. Sejak usia 15 tahun itu saya menjadi penjaga gawang sampai sekarang," tutur Imam, menceritakan momen kunci dalam kariernya.

Perjalanan Panjang Menuju Bandung: Mimpi yang Terwujud

Mimpi mengenakan jersey Persib tak datang secara instan bagi Imam. Ia harus menempuh jalan berliku dan penuh tantangan. Karier profesionalnya dimulai dari Persib U-21, di mana ia sempat merasakan gelar juara. Setelah itu, ia merantau ke berbagai klub demi mengumpulkan pengalaman dan jam terbang, menimba ilmu dari satu kota ke kota lain.

Berikut adalah beberapa klub yang sempat dibela Imam sebelum akhirnya berlabuh ke Persib:

  • Persib U-21 (Juara)
  • Persitara
  • PS Bangka
  • Persika Karawang
  • Cilegon United
  • Barito Putera

Setelah sekian lama berkelana, kesempatan yang dinanti-nanti akhirnya tiba pada Januari 2017. Persib Bandung secara resmi merekrut Imam dari Barito Putera untuk memperkuat lini penjaga gawang Maung Bandung menghadapi kompetisi musim tersebut. Bagi Imam, kepindahan ini bukan sekadar transfer biasa, melainkan sebuah 'pulang kampung' ke klub yang selama ini hanya bisa ia saksikan dari jauh.

Kebahagiaannya semakin sempurna ketika ia mendapat kesempatan langka untuk berlatih bersama legenda Persib yang dulu menjadi inspirasinya, Anwar Sanusi. "Saya sudah mengenal sosok beliau sejak lama. Tahun 2009 saya sempat dipanggil senior, tapi waktu itu mungkin saya masih kecil dan malu-malu. Akhirnya saya harus pergi dari Persib untuk mencari pengalaman di luar. Tahun ini saya bisa merasakan latihan bersama beliau. Saya bangga sekali bisa dilatih oleh seorang legenda Persib Bandung," ungkap Imam dengan penuh haru.

Realita di Balik Mimpi: Tanpa Debut Resmi, Bobotoh Tetap di Hati

Sayangnya, tak semua kisah indah berjalan sesuai harapan. Sepanjang berseragam Persib, Imam Arief Fadillah tak pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di pertandingan resmi. Ketatnya persaingan di sektor penjaga gawang, dengan nama-nama besar lain yang lebih dulu mapan, membuatnya lebih banyak menghangatkan bangku cadangan.

Pada awal musim 2017/2018, ia dipinjamkan ke PSM Makassar untuk mencari menit bermain, sebelum akhirnya dilepas secara permanen ke Persebaya Surabaya pada paruh musim. Sebuah babak baru pun dimulai dalam kariernya. Meskipun gagal menembus tim utama dan merasakan gemuruh pertandingan di hadapan puluhan ribu Bobotoh, Imam tetap menyimpan kesan yang sangat mendalam terhadap Persib dan para pendukungnya.

Satu hal yang paling membekas dalam ingatan Imam selama berada di Bandung adalah fanatisme luar biasa dari Bobotoh. Setelah hampir satu dekade berkarier di sepak bola profesional, ia mengaku baru merasakan dukungan sebesar itu ketika menjadi bagian dari Persib.

"Saya sudah sembilan tahun berkarier di sepak bola dan baru kali ini merasakan suporter yang luar biasa. Mereka berkorban untuk Persib. Ada yang bolos kerja, izin kuliah, izin les dan sebagainya demi menonton Persib. Bobotoh benar-benar luar biasa," katanya, menggambarkan betapa militannya dukungan dari para suporter setia Maung Bandung.

Jejak Karier Setelah Persib dan Sebuah Mimpi yang Tercapai

Setelah meninggalkan Persib, perjalanan karier Imam Arief Fadillah terus berlanjut. Ia sempat membela sejumlah klub di kancah sepak bola Indonesia, menunjukkan dedikasi dan profesionalismenya. Beberapa klub yang pernah menjadi persinggahannya antara lain Sriwijaya FC, PSIM Yogyakarta, Persela Lamongan, Persikabo, Persikota Tangerang, hingga terakhir memperkuat Persijap Jepara pada musim 2024/2025.

Mungkin tidak semua Bobotoh mengingat namanya karena ia tak pernah mencatatkan satu pertandingan resmi pun untuk Persib. Namun, bagi Imam Arief Fadillah, esensi dari sebuah mimpi bukan selalu tentang gemerlap panggung utama. Mengenakan seragam kebanggaan Maung Bandung, berlatih bersama para legenda, dan merasakan atmosfer dukungan Bobotoh yang luar biasa, sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan impian yang ia rajut sejak kecil di sudut kota Tasikmalaya.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
  • Kisah Kiper Persib: Mimpi Jadi Nyata Tanpa Debut Resminya
Posting Komentar
Tutup Iklan