Kabarmaung.com - Euforia kemenangan Persib Bandung yang menjuarai Liga 1 musim ini memang menyelimuti seluruh kota, menciptakan suasana suka cita yang luar biasa. Namun, di tengah hiruk pikuk perayaan tersebut, sebuah insiden kurang menyenangkan sempat mencoreng kebahagiaan. Seorang pria yang aksinya memalak pengendara mobil di kawasan Dago Atas, Kota Bandung, menjadi viral di media sosial. Kini, "Demon" panggilan pria tersebut, telah diamankan pihak kepolisian dan sedang menjalani proses hukum.
Video aksi pemalakan tersebut dengan cepat menyebar luas, memicu kemarahan dan kekhawatiran publik. Dalam rekaman, "Demon" terlihat menghentikan sebuah mobil berpelat B yang melintas di Jalan Ir. H. Juanda (Dago) pada malam puncak perayaan juara Persib, Sabtu (23/5). Dengan gaya premanisme yang meresahkan, ia meminta sejumlah uang kepada pengendara, berdalih menjamin keamanan perjalanan korban. Bahkan, ia tak segan melontarkan ancaman serius jika permintaannya tidak dipenuhi, menciptakan ketakutan bagi sang korban.
"Tambahin tambahin tambahin mau hancur di depan, udah koordinasi sama Demon," ujar pelaku dalam video yang viral tersebut, menunjukkan intimidasi verbal yang kuat. "Terserah berapa aja mau Rp 50 ribu mau berapa terserah. Ya terserah aja," lanjutnya, memberikan kesan paksaan yang tidak bisa ditawar.
Kronologi Aksi Pemalakan yang Meresahkan
Tidak butuh waktu lama bagi aparat penegak hukum untuk bertindak. Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, mengkonfirmasi bahwa pria yang menjadi sorotan publik itu telah diamankan. Pelaku, yang dalam foto tampak mengenakan kemeja lengan panjang bermotif garis-garis gelap dan kacamata hitam saat digiring, kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Polsek Coblong. Dalam foto lainnya, ia terlihat duduk tertunduk di hadapan penyidik, menandakan awal dari pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Dari hasil penyelidikan awal, polisi menduga kuat bahwa pelaku melakukan aksinya di bawah pengaruh minuman keras. Motivasi di balik pemalakan tersebut diduga untuk mendapatkan uang tambahan guna membeli minuman keras kembali, memanfaatkan momen euforia keramaian perayaan juara Persib. "Motifnya, jadi pada saat euforia tersebut mereka melakukan minum-minum bersama. Sehingga pada saat itu mungkin kekurangan uang atau bagaimana, mereka meminta uang untuk beli minuman lagi," jelas Kompol Riki.
Tindakan Tegas Polisi dan Pesan Anti-Premanisme
Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian lokal, tetapi juga mendapat tanggapan tegas dari Dedi Mulyadi. Ia dengan lugas menegaskan bahwa tidak ada toleransi sedikit pun bagi aksi pemalakan dan premanisme di seluruh wilayah Jawa Barat. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menjadikan intimidasi maupun pemerasan sebagai jalan pintas untuk mencari nafkah, melainkan berusaha secara jujur dan halal.
Dedi menambahkan bahwa tindakan premanisme seperti ini bukan hanya merugikan korban secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung mencoreng citra positif Jawa Barat sebagai destinasi wisata dan investasi yang aman. Oleh karena itu, ia menyatakan komitmen pemerintah bersama aparat penegak hukum untuk menindak tegas segala bentuk premanisme yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. "Saya sampaikan kita tidak segan memproses hukum agar kebiasaan ini bisa dihentikan. Berusahalah dengan baik, masih terbuka cari rezeki yang halal, dibanding bergaya preman mengganggu ketertiban keselamatan orang," tegasnya.
Apresiasi juga disampaikan kepada pihak kepolisian atas respons cepat dan efektif dalam menangani kasus ini. Kecepatan penangkapan pelaku diharapkan dapat memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, terutama saat kota Bandung dipenuhi oleh keramaian dan perayaan.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa di balik setiap perayaan, keamanan dan ketertiban harus tetap menjadi prioritas utama. Premanisme tidak akan pernah memiliki tempat di Jawa Barat, dan setiap pelanggaran hukum akan ditindak tegas.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com