Kabarmaung.com - Isu panas yang sempat mengguncang jagat maya dan memicu ketegangan antara civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan kelompok suporter Persib, Bobotoh, akhirnya menemukan titik terang. Polemik yang dipicu oleh unggahan media sosial kontroversial dan berkembang hingga dugaan aksi pelemparan molotov ke gerbang Kampus ITB Ganesha beberapa waktu lalu, kini berangsur mereda setelah pertemuan penting antara kedua belah pihak.
Ketegangan bermula dari sebuah unggahan di media sosial yang dinilai menyinggung perasaan Bobotoh dan sarat akan isu SARA. Narasi yang berkembang di dunia maya kemudian membentuk opini seolah-olah ITB dan Bobotoh berada di kubu yang berseberangan. Puncak dari eskalasi ini adalah kabar dugaan pelemparan bom molotov yang terjadi pada dini hari. Namun, berkat inisiatif kedua belah pihak, suasana di Kampus ITB kini telah kembali kondusif, dengan kesepakatan bahwa perselisihan akibat ulah oknum tidak boleh mencoreng hubungan baik antara kelompok.
Harmoni Kembali Terjalin ITB dan Bobotoh Berikrar Damai
Pertemuan silaturahmi antara Rektor ITB dengan perwakilan Bobotoh, termasuk Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, menjadi kunci meredanya situasi. Tobias Ginanjar secara tegas menyatakan bahwa hubungan antara Bobotoh dan ITB sejatinya sangat erat. "Kami diundang bersilaturahmi dengan Pak Rektor ITB, kaitannya terkait yang ramai di media sosial soal postingan dari ITBFest," ujar Tobias, menjelaskan tujuan pertemuan tersebut.
Tobias menekankan adanya banyak mahasiswa ITB yang juga merupakan pendukung setia Persib, bahkan beberapa di antaranya tergabung dalam "Viking Ganesha". Hal ini membuktikan bahwa tidak ada alasan untuk menggeneralisasi insiden ini sebagai sikap seluruh civitas akademika ITB terhadap Bobotoh. "Setelah kami berdiskusi, kami perwakilan Bobotoh menyampaikan dan mengimbau bahwa ternyata di ITB itu sebenarnya tidak membenci Bobotoh, karena banyak juga Bobotoh yang kuliah di ITB," tambahnya.
Meskipun demikian, Tobias menegaskan bahwa tindakan provokatif yang dilakukan oleh oknum di ITBFest tidak dapat dibenarkan. Pihak ITB sendiri, menurut Tobias, telah berkomitmen untuk mengambil tindakan tegas sesuai dengan aturan internal kampus terhadap oknum yang bertanggung jawab atas unggahan pemicu kegaduhan tersebut.
Rektor ITB Minta Maaf dan Tegaskan Anti Provokasi
Dari pihak ITB, Rektor Tatacipta Dirgantara menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang telah terjadi. Ia mengakui bahwa polemik di media sosial dapat bergulir menjadi bola salju yang besar dan berpotensi merusak kerukunan di Kota Bandung. "Saya mohon maaf sekali telah terjadi kegaduhan tadi yang sudah disampaikan di media sosial, kita tahu bahwa kehidupan di media sosial kadang bergulir menjadi bola salju yang besar dan berdampak pada kerukunan," kata Tatacipta.
Tatacipta menegaskan bahwa ITB sama sekali tidak ingin dipertentangkan dengan Bobotoh maupun Viking Persib Club. Ia memastikan bahwa kampus akan menindak tegas oknum yang terlibat sesuai aturan internal ITB, serta mengecam keras segala bentuk provokasi yang dapat memicu perpecahan dan isu SARA. "Kami sama sekali tidak membenarkan dan menyesalkan bahkan mengutuk pernyataan yang sifatnya provokatif, menghasut, memecah belah," tegasnya. Ia menambahkan bahwa tindakan semacam itu bertentangan dengan budaya akademik yang beradab dan spirit kebersamaan Kota Bandung.
Bobotoh Senior Suarakan Toleransi Nol untuk Kekerasan
Suara serupa juga disuarakan oleh Bobotoh senior, Eko Noer Kristiyanto atau akrab disapa Eko Maung. Ia dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada ruang bagi aksi kekerasan maupun vandalisme atas nama Bobotoh. "Buat bobotoh aksi kekerasan, vandalisme gak ada toleransi," ucap Eko Maung.
Eko juga mengingatkan seluruh mahasiswa di Bandung dan Jawa Barat untuk memahami kultur masyarakat yang memiliki kedekatan emosional sangat kuat dengan Persib. "Untuk mahasiswa di seluruh kampus di Jawa Barat harus paham dengan kultur warga Bandung, warga Jawa Barat. Termasuk keistimewaan Persib di hati warganya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Eko Maung menekankan bahwa persoalan menjadi sangat serius ketika narasi yang muncul mulai menyentuh isu SARA. "Kalau ada statemen yang sampai sara itu gak bisa ditolerir lagi, malah membahayakan diri sendiri," tegasnya, mengingatkan akan bahaya provokasi berbau SARA.
Setelah pertemuan yang konstruktif ini, Eko berharap situasi benar-benar mereda dan tidak lagi dipanaskan, baik di dunia nyata maupun media sosial. "Secara normatif ya, ini namanya ikhtiar agar eskalasinya turun. Berproses ya, semoga membaik tensinya," pungkas Eko, menyiratkan harapan akan perdamaian yang berkelanjutan.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com