Kabarmaung.com - Musim 2025/2026 adalah salah satu periode paling manis dalam sejarah Persib Bandung. Maung Bandung berhasil mengukir sejarah dengan meraih hattrick juara kompetisi nasional, sebuah pencapaian yang membanggakan Bobotoh di seluruh penjuru. Namun, di balik gemerlap trofi dan euforia kemenangan, Persib harus menghadapi kenyataan pahit: sederet Sanksi dan denda yang mencapai angka fantastis. Klub kebanggaan Jawa Barat ini harus menanggung 'bayaran mahal' atas berbagai pelanggaran disipliner, mulai dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), hingga yang terbaru dan paling mengejutkan, larangan mendaftarkan pemain baru dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Total denda dan konsekuensi finansial yang harus ditanggung diperkirakan mencapai lebih dari Rp5,9 miliar.
FIFA Jatuhkan Sanksi Transfer Pemain: Kisah Daisuke Sato
Sanksi terberat dan paling mengancam datang dari FIFA. Pada 29 Mei 2026, nama Persib Bandung secara resmi masuk dalam daftar 'FIFA Registration Bans', daftar klub yang dilarang melakukan registrasi pemain baru. Ini tentu menjadi pukulan telak bagi tim yang baru saja merayakan gelar juara.
Terungkap kemudian, hukuman ini tidak berkaitan dengan tunggakan gaji pemain aktif atau masalah finansial klub secara umum, melainkan berakar dari sengketa kontrak dengan mantan pemain asingnya, Daisuke Sato. Bek tim nasional Filipina tersebut sempat diakhiri kontraknya oleh Persib pada tahun 2023, padahal ia masih terikat kontrak jangka panjang dengan Maung Bandung.
Perselisihan ini lantas dibawa ke meja hijau FIFA, yang pada akhirnya memenangkan pihak Daisuke Sato. Persib diwajibkan membayar kompensasi finansial sekitar Rp3 miliar. Meskipun Persib sempat menempuh jalur hukum lanjutan, putusan FIFA tetap berkekuatan hukum. Karena kewajiban tersebut belum dipenuhi dalam tenggat waktu yang ditetapkan, FIFA tanpa ampun menjatuhkan sanksi larangan registrasi pemain baru hingga seluruh perkara diselesaikan.
Denda Bertubi-tubi dari Komdis PSSI
Sebelum dihantam oleh palu FIFA, Persib sudah lebih dulu akrab dengan sanksi dari Komdis PSSI sepanjang musim. Pelanggaran pertama tercatat saat laga melawan Arema FC pada September 2025, di mana kehadiran Bobotoh di tribun tim tamu membuat Persib didenda Rp25 juta.
Kasus serupa terulang pada Januari 2026 ketika menghadapi Persik Kediri, lagi-lagi suporter tandang menjadi penyebab denda Rp25 juta.
Masalah semakin meruncing saat Persib menjamu Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Insiden pelemparan botol dan benda-benda ke lapangan memicu denda Rp30 juta, ditambah lagi penyalaan petasan di beberapa tribun yang berujung pada denda Rp60 juta.
Puncak sanksi dari Komdis PSSI datang menjelang akhir musim, dalam dua pertandingan melawan Bhayangkara FC dan PSIM Yogyakarta. Berbagai pelanggaran terjadi hampir bersamaan dan dalam skala besar: mulai dari kehadiran suporter tandang, invasi lapangan oleh oknum penonton, penyalaan flare dan petasan secara masif, hingga pelemparan benda-benda ke lapangan. Akibatnya, total denda untuk dua laga ini mencapai angka mengejutkan: Rp455 juta.
AFC Beri Hukuman Miliaran Rupiah di Kancah Asia
Jika hukuman Komdis PSSI berkisar di puluhan hingga ratusan juta, sanksi dari AFC jauh lebih berat, mencapai miliaran rupiah. Masalah pertama muncul akibat pelanggaran administratif saat Persib berlaga di kompetisi Asia.
Saat menghadapi Selangor FC, AFC menemukan berbagai pelanggaran: flare, pelemparan benda berbahaya, spanduk bermuatan politik, hingga penonton yang nekat memanjat pembatas stadion. Persib didenda ratusan juta rupiah dan sebagian tribun stadion harus ditutup.
AFC kembali menjatuhkan hukuman setelah terjadi invasi lapangan dan pelemparan benda dalam pertandingan tandang melawan Selangor. Kemudian, Persib juga dihukum setelah pertandingan melawan Bangkok United akibat penyalaan flare, gangguan jalur evakuasi, dan lemahnya pengamanan stadion.
Kerusuhan yang melibatkan suporter Persib di Thailand saat menghadapi Ratchaburi FC juga tak luput dari perhatian AFC, yang kembali mengeluarkan sanksi finansial.
Namun, hukuman paling berat datang setelah pertandingan Persib kontra Ratchaburi FC di GBLA pada Februari 2026. AFC mencatat sederet pelanggaran berat yang sangat merugikan citra klub: penyalaan flare dan kembang api, pelemparan kursi dan botol, perusakan fasilitas stadion, tindakan kekerasan, invasi lapangan, hingga penghinaan terhadap lawan dan perangkat pertandingan. Konfederasi sepak bola Asia itu akhirnya menjatuhkan denda sebesar USD 200 ribu, atau setara dengan sekitar Rp3,5 miliar.
Selain denda finansial, Persib juga diwajibkan memainkan dua pertandingan kandang AFC tanpa penonton, dengan satu hukuman ditangguhkan selama masa percobaan. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran yang terjadi.
Rentetan hukuman ini menempatkan Persib sebagai salah satu klub dengan beban sanksi terbesar sepanjang musim 2025/2026. Dari Komdis PSSI, AFC, hingga kini FIFA, total nilai denda dan konsekuensi finansial yang harus ditanggung klub diperkirakan mencapai Rp5,9 miliar. Sebuah ironi manis pahit bagi klub yang baru saja merayakan puncak kejayaan di kancah domestik. Tantangan Persib tidak hanya ada di lapangan hijau, namun juga di luar lapangan, dalam menjaga kedisiplinan dan citra klub di mata federasi sepak bola dunia.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com