Kabarmaung.com - Sebuah insiden mengerikan kembali mencoreng citra keamanan di Kota Tasikmalaya. Lima warga, termasuk beberapa di antaranya adalah Bobotoh Persib yang berencana menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga, menjadi korban pengeroyokan brutal oleh gerombolan bermotor tak dikenal. Peristiwa kelam ini terjadi dini hari, menyisakan trauma dan luka bagi para korban serta memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.
Kronologi Serangan Brutal yang Mencekam
Kisah nahas ini bermula pada Sabtu dini hari, 17 Oktober 2026, sekitar pukul 02.40 WIB. Lokasi kejadian adalah area ruko Pecel Lele di Jalan Ir. H. Juanda, yang tidak jauh dari kawasan Bundaran Linggajaya, Kota Tasikmalaya. Idris, seorang pedagang pecel lele, saat itu sedang bersama empat orang temannya yang datang jauh-jauh dari kampung halaman mereka di Salopa, Tasikmalaya. Tujuan mereka berkumpul sangatlah sederhana, bahkan inspiratif bagi sebagian Bobotoh, yakni berencana untuk berangkat ke Bandung untuk menonton pertandingan Persib.
Menurut penuturan Idris, dia sempat meninggalkan teman-temannya sejenak untuk berbelanja kebutuhan dagangan di Pasar Cikurubuk. Namun, sepulangnya Idris dari pasar, situasi berubah mencekam dalam hitungan detik. Tanpa peringatan atau provokasi yang jelas, sebuah rombongan gerombolan bermotor tiba-tiba datang dan langsung melancarkan serangan membabi buta kepada Idris dan teman-temannya.
Mimpi Nonton Persib Berujung Petaka
Idris menjelaskan bahwa teman-temannya memang sengaja datang untuk istirahat sejenak di ruko miliknya sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung. "Teman saya itu mengajak ke Bandung, mau nonton Persib ke stadion. Mereka saya suruh menunggu dulu, karena saya mau belanja ke Pasar Cikurubuk," ungkap Idris dengan nada pilu, Selasa (20/10/2026). Niat suci untuk mendukung tim kesayangan, Maung Bandung, seketika berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan.
Dari rekaman CCTV yang beredar, terlihat jelas bagaimana kelima korban berusaha keras menyelamatkan diri. Mereka mencoba masuk ke dalam ruko untuk mencari perlindungan, namun nasib berkata lain. Pintu besi ruko yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru macet dan gagal dibuka kuncinya. Dalam kepanikan, Idris berhasil melarikan diri, namun keempat temannya tak seberuntung itu. Mereka tertahan di pintu dan menjadi bulan-bulanan para pelaku. Beberapa anggota Geng Motor terlihat menendang dan memukuli, bahkan ada yang menggunakan pentungan untuk melukai korban.
Dua dari empat teman Idris menderita luka robek serius di bagian kepala akibat hantaman benda tumpul. Sementara tiga korban lainnya, meski berhasil menghindar dari pukulan fatal, mengalami memar dan luka ringan. Kondisi ini menunjukkan betapa brutal dan tanpa ampunnya serangan yang dilancarkan gerombolan tersebut.
Korban Salah Sasaran, Polisi Turun Tangan
Idris mengaku hingga kini tidak mengerti apa motif di balik serangan tersebut. Ia bersikukuh bahwa dirinya maupun teman-temannya tidak memiliki masalah dengan siapa pun, apalagi bertemu rombongan pelaku di jalan. "Mungkin disangka geng motor, padahal bukan sama sekali. Saya pedagang pecel lele yang baru beres jualan, teman saya dari Salopa hendak ke Bandung, mau istirahat dulu di ruko tempat jualan saya, saya tidak tahu apa-apa dan tidak ada masalah dengan siapa pun," tegas Idris, menyiratkan kekecewaan dan rasa ketidakadilan.
Setelah para pelaku melarikan diri, Idris kembali ke lokasi dan menemukan dua temannya sudah berlumuran darah di kepala. Mereka segera dilarikan ke klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Insiden berdarah ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam dan rasa cemas, terutama bagi Idris yang setiap hari beraktivitas di lokasi tersebut.
Pihak kepolisian Kota Tasikmalaya pun tak tinggal diam. Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Yanuar Rangga, memastikan bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari para korban dan sedang melakukan penyelidikan intensif. "Para korban sudah resmi membuat laporan ke Polres Tasikmalaya Kota. Saat ini kami sedang melakukan pendalaman intensif di lapangan dan berharap kasus ini bisa cepat terungkap," jelas AKP Yanuar Rangga.
Polisi memperkirakan jumlah pelaku cukup banyak, "Rombongan datang menggunakan sekitar 10 sepeda motor secara berboncengan, jumlahnya sekitar 15 hingga 20 orang. Mereka langsung melakukan penyerangan," tambahnya, menggambarkan skala kekerasan yang terjadi.
Meningkatkan Kewaspadaan dan Seruan Keadilan
Kasus pengeroyokan oleh geng motor ini menjadi pengingat pahit akan bahaya kejahatan jalanan yang masih mengintai, terutama di jam-jam rawan dini hari. Keamanan dan ketenangan warga menjadi taruhan ketika kelompok-kelompok brutal ini beraksi tanpa pandang bulu. Bagi komunitas Bobotoh yang sering melakukan perjalanan antarkota untuk mendukung Persib, insiden ini tentu menjadi perhatian serius terkait keselamatan.
Idris, mewakili para korban dan masyarakat yang resah, menyuarakan harapannya agar para pelaku segera ditangkap dan dihukum setimpal. "Rasa takut pasti ada. Semoga para pelaku cepat tertangkap dan dihukum setimpal agar kejadian serupa tidak terulang lagi kepada warga atau pedagang lain," ujarnya. Harapan ini selaras dengan tuntutan publik akan keadilan dan penegakan hukum yang tegas terhadap aksi-aksi kekerasan jalanan.
- Hindari bepergian sendirian di jam rawan.
- Selalu waspada terhadap lingkungan sekitar.
- Segera laporkan tindak kejahatan atau aktivitas mencurigakan kepada pihak berwajib.
- Aktifkan fitur keamanan di ponsel (misal: panggilan darurat).
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com