Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal

Kabarmaung.com - Dunia sepak bola Indonesia kembali diwarnai insiden kelam yang mencoreng sportivitas. Bus rombongan tim Persib Bandung U-18 menjadi sasaran penyerangan brutal oleh oknum suporter di Rest Area Km 360 Batang, baru-baru ini. Kejadian memilukan ini sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang mengecam tindakan tersebut sebagai aksi kriminalitas murni dan tidak bisa ditoleransi.

Insiden Memilukan di Tol Batang: Bus Persib U-18 Diserang

Peristiwa tragis ini terjadi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.27 WIB. Saat itu, rombongan pemain dan ofisial Persib U-18 yang berjumlah sekitar 30 orang sedang dalam perjalanan pulang dari Solo setelah mengikuti kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-18. Mereka berhenti di Rest Area KM 360 Batang. Ketika kernet bus, Irsad, turun untuk mengambil koper, ia dihampiri oleh seorang pria tak dikenal yang menanyakan apakah bus tersebut membawa rombongan Persib. Tanpa disangka, pria tersebut kemudian memanggil teman-temannya.

Tak lama berselang, sekelompok orang datang mendekati bus Bima Trans bernomor polisi Z 7539 GZ tersebut. Mereka melancarkan serangan membabi buta, melempari bus dengan batu hingga memecahkan kaca bagian kiri belakang dan kanan belakang. Lebih parahnya, salah satu ofisial Persib U-18, Pandu, juga menjadi korban penganiayaan dalam insiden brutal tersebut. Motivasi di balik penyerangan ini, menurut polisi, dipicu oleh fanatisme berlebihan terhadap klub sepak bola, menunjukkan betapa destruktifnya rivalitas yang tidak sehat.

Reaksi Tegas Ketum PSSI Erick Thohir: Ini Kriminal!

Mendengar kabar penyerangan ini, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, tidak tinggal diam. Dengan nada geram, Erick menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh oknum suporter tersebut adalah tindakan kriminal yang sangat serius. "Pasti dan harus kita tindak lanjuti. Karena dari PSSI saya rasa, saya juga sama. Kita punya kesepakatan dengan FIFA bahwa suporter itu baik Timnas, baik klub, harus pulang dengan selamat," tegas Erick Thohir di Balai Kota Solo.

Erick menekankan pentingnya menjaga keselamatan seluruh elemen sepak bola, terutama para atlet muda yang merupakan masa depan bangsa. Ia menegaskan bahwa PSSI tidak akan mentolerir insiden-insiden yang kembali membawa 'kegelapan' bagi sepak bola Indonesia. Mantan bos Inter Milan itu mendorong operator liga dan klub-klub untuk serius menindaklanjuti kasus ini dan memastikan para pelaku diberikan hukuman seberat-beratnya. "Ini sudah kriminal. Merampas, memecahkan, memukuli, itu sudah kriminal. Saya rasa suporter sepak bola Indonesia cerminannya tidak begitu," ujarnya, menyoroti bahwa aksi tersebut telah melampaui batas-batas sportivitas dan masuk ranah pidana.

Penegakan Hukum Bergerak Cepat: Pelaku Diciduk

Beruntungnya, pihak kepolisian bergerak cepat mengusut tuntas kasus penyerangan ini. Hanya dalam waktu singkat, seorang pria berinisial BPA (33), warga Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat, berhasil diamankan. Penangkapan dilakukan di Gerbang Tol Cikarang Utama setelah polisi melakukan penelusuran intensif berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan saksi. Kasat Reskrim Polresta Batang Kompol Bintoro Thio Pratama memastikan bahwa pelaku adalah oknum suporter Persija Jakarta.

Menurut keterangan polisi, BPA sebelumnya menonton pertandingan sepak bola di Jogja dan dalam perjalanan kembali ke Jakarta, rombongannya berhenti di rest area yang sama dengan bus Persib U-18. Saat mengetahui ada rombongan Persib, fanatisme buta mendorongnya dan rekan-rekannya melakukan aksi perusakan dan penganiayaan. Pihak kepolisian menyatakan akan terus bekerja sama dengan PSSI untuk menegakkan hukum setinggi-tingginya demi kebaikan sepak bola nasional.

Mencegah Terulangnya Insiden Kelam Sepak Bola

Erick Thohir juga menyoroti kesulitan dalam mengantisipasi tindak kejahatan semacam ini. Menurutnya, aksi kriminalitas bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, kunci utamanya adalah penegakan hukum yang tidak tumpul. "Tidak bisa (diantisipasi), yang namanya kejahatan itu pasti di masyarakat tetap ada. Tinggal bagaimana penegakan hukumnya tidak tumpul. Itu yang kita dorong, oknum-oknum ini untuk dihukum. Karena sudah kriminalitas, bukan sepak bola lagi. Sepak bola kita bersahabat," pungkas Erick.

Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa masih ada pekerjaan rumah besar untuk menciptakan iklim sepak bola yang aman dan kondusif, bebas dari kekerasan dan fanatisme buta yang merusak. Penting bagi semua pihak, mulai dari PSSI, operator liga, klub, hingga suporter itu sendiri, untuk terus bersinergi dalam mengedukasi dan menumbuhkan budaya sportivitas yang sesungguhnya.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
  • Erick Thohir Murka Penyerangan Bus Persib U-18 Tindak Kriminal
Posting Komentar
Tutup Iklan