Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!

Kabarmaung.com - Kabar gembira datang untuk seluruh pecinta sepakbola Tanah Air! Operator kompetisi, I.League, baru-baru ini secara tegas menyatakan bahwa Super League Indonesia adalah kompetisi sepakbola paling kompetitif se-Asia Tenggara. Pernyataan ini bukan isapan jempol belaka, melainkan sebuah pengakuan yang didasari oleh data konkret dari AFC. Keberhasilan Persib Bandung meraih gelar juara yang harus ditentukan hingga pekan terakhir musim lalu menjadi bukti nyata ketatnya persaingan di kasta tertinggi Sepakbola Indonesia.

Super League Rajai Asia Tenggara dalam Kompetitif

Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, dalam diskusi Water Break PSSI Pers di Jakarta (31/8/2026), mengungkapkan kebanggaannya. "Kalau melihat competitiveness level kita ya, data dari AFC ya, se-Asia Tenggara ini (kompetisi) kita sudah nomor 1," tegas Sadikin. Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa penentuan juara Super League seringkali berlangsung hingga pekan-pekan terakhir, bahkan harus memakai aturan head-to-head seperti yang terjadi pada musim lalu antara Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda.

Musim lalu menjadi cermin sempurna betapa sengitnya persaingan. Persib yang akhirnya mengangkat trofi juara harus berjuang keras hingga detik-detik akhir, mengungguli Borneo FC Samarinda hanya karena keunggulan head-to-head, setelah keduanya mengumpulkan poin yang sama. Bahkan, Persija Jakarta sempat meramaikan perburuan gelar sebelum akhirnya melempem di penghujung musim. Situasi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Liga-liga lain di ASEAN. Sadikin Aksa menyoroti Liga Malaysia yang selama lebih dari satu dekade didominasi Johor Darul Takzim (JDT) dengan 12 gelar berturut-turut, atau Liga Thailand yang hanya dikuasai segelintir tim seperti Buriram United dan Bangkok United.

Daya Tarik Global: Sponsor dan Pemain Kelas Dunia Merapat

Tingginya level kompetitif inilah yang menjadi magnet utama bagi brand-brand dunia. Bukan rahasia lagi jika Indonesia memiliki basis penggemar sepakbola terbesar, baik secara persentase maupun kuantitas, di regional Asia Tenggara, sebagaimana data dari Nielsen. Dulu, kekhawatiran akan masalah keamanan atau jadwal kompetisi yang tidak pasti membuat investor ragu. Namun, dalam 2-3 tahun terakhir, persepsi itu telah berubah total.

Kini, nama-nama besar seperti Adidas, Coca-Cola, hingga Hyundai, yang merupakan raksasa di panggung sepakbola global, tidak ragu lagi menanamkan investasinya di Indonesia. Bahkan, Adidas pada musim ini secara langsung menggandeng lima klub Super League sekaligus: Persija Jakarta, Bali United, PSIM Yogyakarta, PSM Makassar, dan Persik Kediri. Ini menunjukkan betapa menjanjikannya pasar sepakbola Indonesia.

Dampak positifnya tidak hanya terasa di sektor komersial, tetapi juga dalam menarik talenta-talenta kelas dunia. Arthur Irawan, Owner Persik Kediri, membenarkan hal ini. Ia mengaku kini lebih mudah meyakinkan pemain-pemain berkualitas untuk bergabung dengan timnya. Persik bahkan sukses mendatangkan Jon Toral (eks akademi Arsenal dan La Masia) dan Reno Piscopo (dari Melbourne Victory). "Saya rasa Liga Indonesia itu sangat kompetitif, menariknya sedikit (mirip) kayak Liga Premier, siapa pun bisa menang lawan siapa pun," ujar Arthur.

Pemain yang pernah merumput di liga dominan seperti JDT atau Buriram pun tertarik merasakan ketatnya Super League. Mereka mencari tantangan baru, sesuatu yang seringkali absen di liga yang sudah jelas juaranya sejak awal musim. Ini adalah sinyal positif bahwa kualitas liga kita semakin diakui di mata pemain internasional.

Tantangan di Balik Gemilangnya Super League

Meskipun demikian, perjalanan menuju puncak masih memiliki kerikil tajam yang harus dibersihkan. Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) mengingatkan para pemangku kepentingan untuk tidak lengah. Kualitas kompetisi tidak hanya diukur dari ketatnya persaingan di lapangan, tetapi juga dari profesionalisme pengelolaan klub, terutama dalam menghormati kontrak para pemain.

Catatan APPI menunjukkan bahwa masih ada 28 klub yang tersangkut sengketa pembayaran upah. Kasus penunggakan gaji bertahun-tahun oleh Kalteng Putra menjadi contoh nyata permasalahan serius yang harus segera dituntaskan. Legal Officer APPI, Muhammad Agus Riza Hufaida, menekankan bahwa "liga yang baik tentunya menghasilkan tim nasional yang baik." Ini mustahil tercapai jika hak-hak dasar pemain masih terabaikan.

Selain itu, APPI juga menyuarakan evaluasi terhadap beberapa regulasi, seperti jumlah pemain asing yang kini mencapai 11 pemain per klub, serta dihapusnya regulasi wajib memainkan pemain U-23. Kebijakan ini dinilai APPI berpotensi menggerus kesempatan bermain dan pengembangan talenta-talenta lokal. "Pemain lokal yang dihasilkan dari liga kita bisa dihitung dengan jari, bahkan kalau bisa boleh dikatakan hampir tidak ada," kritik Agus Riza Hufaida.

Potensi Super League Indonesia sebagai liga terbaik di Asia Tenggara sudah di depan mata. Ketatnya persaingan, besarnya antusiasme penggemar, dan minat dari brand global adalah modal berharga. Namun, untuk benar-benar "naik kelas" dan menjadi kekuatan dominan di regional, tantangan terkait profesionalisme klub dan pengembangan pemain lokal harus segera diatasi. Dengan sinergi yang kuat antara operator, klub, dan federasi, bukan tidak mungkin kita akan melihat Super League bukan hanya paling kompetitif, tetapi juga paling profesional dan produktif di masa depan.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
  • Super League Kalahkan Liga ASEAN! Persib Jadi Bukti!
Posting Komentar
Tutup Iklan