Kabarmaung.com - Di tengah gemuruh sorak-sorai dan semangat yang membara, sepak bola, khususnya Persib Bandung, terbukti bukan sekadar permainan di atas lapangan hijau. Lebih dari itu, Maung Bandung adalah perekat sosial, pemersatu lintas generasi, bahkan pendorong denyut ekonomi kerakyatan. Kisah-kisah inspiratif dari berbagai sudut Bandung Raya menunjukkan betapa kuatnya ikatan ini.
Malam final Piala Presiden 2026 menjadi saksi bisu keajaiban ini. Di Bhumi Kiwari, Sukajadi, Kota Bandung, sekelompok lansia berambut perak dengan bangga membalut tubuh mereka dengan jersey biru kebanggaan. Dipimpin oleh Pak Junet (76), rombongan angkatan SMAN 6 Bandung tahun 1970 ini membuktikan bahwa usia hanyalah angka jika bicara tentang cinta pada Persib.
"Saya sendiri angkatan SMA tahun 1970," ujar Pak Junet dengan tawa renyah, mengenang puluhan tahun kecintaan mereka pada sepak bola. Bagi mereka, nobar adalah ritual wajib yang telah turun-temurun, dari masa muda hingga masa senja. Bahkan, tak jarang orang luar Bandung dibuat heran melihat antusiasme Bobotoh yang merangkul semua kalangan, dari bayi hingga nenek-nenek.
Pak Junet membawa sekitar 30 kawan seangkatannya. Bukan uang, melainkan tebak skor sederhana yang memantik gelak tawa dan kebersamaan. Gemuruh sorakan mereka tak kalah nyaring saat Patricio Matricardi mencetak gol penyeimbang untuk Persib. "Selama Piala Presiden 2026, ini ketiga kalinya kami berkumpul di Bhumi Kiwari. Dulu kami nobar di stadion, tapi sekarang sudah tua. Kadang kami adakan di rumah sambil makan-makan," imbuhnya.
"Babaturan Munggah Jadi Baraya": Filosofi Bobotoh Sejati
Bagi generasi emas '70-an ini, nonton bareng (nobar) jauh melampaui sekadar menyaksikan pertandingan. Ini adalah panggung untuk merayakan kebersamaan masa tua yang penuh kehangatan dan inklusivitas. Setiap kali Maung Bandung berlaga, Pak Junet bersama rekan-rekannya aktif mengabsen kehadiran melalui grup WhatsApp, bahkan mengatur transportasi bagi yang membutuhkan.
- Kawan-kawan tanpa kendaraan dijemput dan diantar bersama.
- Semua saling bertanggung jawab dan menjaga satu sama lain.
- Bahkan melibatkan anak cucu, menjadikan nobar sebagai tradisi keluarga.
Ini adalah implementasi nyata dari moto mereka: "Babaturan munggah jadi baraya", yang berarti dari sekadar teman, naik derajat menjadi saudara. Sepak bola menjadi jembatan silaturahmi yang tak lekang oleh waktu.
Kehangatan Nobar di Pelosok Lembang
Bergeser 16 kilometer ke utara, di Kampung Cilumber, Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), nuansa kebersamaan tak kalah terasa. Di tengah dinginnya malam Bandung utara, warga menggelar nobar final Piala Presiden 2026 dengan cara yang lebih sederhana namun tak kalah syahdu.
Bukan videotron canggih, melainkan layar tancap swadaya menjadi pusat perhatian. Selepas Isya, kabel listrik dibentangkan, proyektor sederhana dinyalakan, dan layar putih 2x5 meter dibentangkan dengan bantuan bambu. Jaket tebal dan sarung menjadi teman setia. Secangkir kopi hangat dan gorengan dari warung tetangga melengkapi suasana nobar yang merakyat. Warga, yang sehari-hari disibukkan dengan bertani dan beternak, menjadikan momen ini sebagai oase silaturahmi.
Nana Supriatna, penggagas nobar di Cilumber, menjelaskan, "Acara ini digelar Karang Taruna, agar warga bisa kumpul dan paling utama silaturahmi. Harapannya, aktivitas anak muda bisa terpantau lebih dekat karena tak perlu mencari lokasi nobar di luar desa. Kita tahu banyak lokasi nobar, kadang kita suka khawatir dengan pergaulan zaman sekarang ya."
Sepak Bola, Mesin Penggerak Ekonomi Rakyat
Di balik keriuhan dan sorak-sorai bobotoh, roda ekonomi mikro berputar kencang. Di Bhumi Kiwari, para pelayan hilir-mudik mengantarkan pesanan, asap sate mengepul, dan mesin kopi tak berhenti beroperasi. Bagi pelaku UMKM seperti Fajar (41), pengelola Nasi Tempong Umaiya, nobar Persib adalah napas baru bagi usahanya.
"Dampaknya luar biasa bagus. Mau di mana pun tempat yang mengadakan nobar, pasti berdampak positif. Penjualan naik, minimal 50 persen dari okupansi tempat dapat lah," ungkap Fajar. Ia mengenang masa-masa sulit usahanya sebelum Bhumi Kiwari seramai sekarang, dan bagaimana kultur berkumpul warga Bandung, terutama saat nobar Persib, mengubah segalanya.
Menariknya, Nasi Tempong yang berakar dari Banyuwangi dan populer di Bali ini laris manis disantap bobotoh. "Mau apa pun makanannya, jajannya apa, mau pizza khas Italia, atau Nasi Tempong dari Banyuwangi, orang Bandung kalau nobar pasti jajan," kata Fajar, yang juga anggota Viking, sambil tersenyum.
Fajar menegaskan, "Suka tidak suka, kultur kita adalah Persib yang sudah jadi darah daging. Ini bukan cuma pesta rakyat biasa, tapi pestanya orang Bandung, pestanya Persib, pestanya Viking. Yang penting warga ngumpul, ekonomi ikut berputar." Di Kampung Cilumber pun, warung-warung kecil ikut 'marema' (laris manis) karena penonton mencari kudapan.
Efek Pengganda Ekonomi Sepak Bola Nasional
Dampak ekonomi sepak bola bukanlah isapan jempol belaka. Jurnal The Rising of Indonesia Soccer that Contribute to National Income: The Multiplier Effects oleh Wiwin Priana dan Dewi Khrisna Sawitri dari UPN menjelaskan bahwa sepak bola telah bergeser dari hiburan semata menjadi komoditas industri kreatif potensial. Efek pengganda ekonomi (multiplier effect) langsung terasa di perekonomian lokal.
- Kehadiran ribuan penonton menggerakkan UMKM kuliner dan penjual merchandise.
- Mobilisasi suporter antarkota menghidupkan sektor transportasi, akomodasi, dan perhotelan.
Studi LIB 2021 menunjukkan, ekosistem ekonomi sepak bola nasional mampu menyerap 44.000 hingga 112.000 tenaga kerja dan menciptakan tambahan pendapatan rumah tangga pekerja sebesar Rp1,8 triliun dalam satu musim kompetisi. "Sepak bola nasional dapat menjadi industri yang semakin berkelanjutan dan memberikan efek positif bagi kesejahteraan pihak-pihak yang terlibat," tulis mereka.
Semangat ini terbukti di Piala Presiden 2026. Perputaran ekonomi mencapai Rp 1,5 miliar dari produk UMKM, meningkat 27% dari edisi sebelumnya. Sebanyak 165 pedagang di Bandung, Surabaya, dan Bali merasakan langsung dampaknya. Steering Committee Maruarar Sirait menegaskan, "Piala Presiden adalah tentang sebuah nilai luhur yang kita pertahankan: sportivitas, daya juang, keberlanjutan, kepedulian terhadap lingkungan, keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan daerah, dan menggerakkan Ekonomi Lokal."
Turnamen boleh usai, namun sepak bola tak hanya tentang trofi. Ia adalah panggung yang mempertemukan berbagai kalangan tanpa sekat usia, kelas, maupun wilayah. Dari berputarnya roda ekonomi pedagang kecil hingga hangatnya silaturahmi warga, sepak bola adalah pesta rakyat sesungguhnya, sebuah perayaan yang menjadi jalan rezeki sekaligus wadah mempererat kebersamaan.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com