Kabarmaung.com - Kabar mengejutkan datang dari persiapan Persib Bandung menghadapi laga krusial play-off AFC Champions League Two (ACL 2). Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang seharusnya menjadi markas kebanggaan, justru belum siap! Akibatnya, Maung Bandung harus rela memindahkan venue pertandingan penting melawan Manila Digger yang dijadwalkan pada Senin, 31 Agustus 2026, ke Stadion Si Jalak Harupat. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas molornya perbaikan rumput GBLA ini?
Misteri Rumput GBLA: Optimisme yang Kandas
Sebelumnya, sempat ada gelombang optimisme bahwa perbaikan rumput GBLA akan tuntas sebelum laga play-off tersebut. Estimasi awal menyebutkan pekerjaan bakal rampung pada 12-14 Agustus 2026. Namun, kenyataan pahit berkata lain. Kondisi rumput GBLA masih memerlukan pemeliharaan dan pemulihan, memaksa Persib mengambil keputusan berat memindahkan kandang.
Perlu diketahui, proses perbaikan rumput GBLA ini tidak dikerjakan langsung oleh manajemen Persib. Melainkan oleh sebuah vendor yang terpilih melalui skema lelang. Meski demikian, molornya kesiapan stadion pada akhirnya tetap berdampak langsung terhadap citra dan persiapan Persib. Keputusan ini, tentu saja, menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan Bobotoh dan publik sepak bola nasional mengenai standar kualitas dan akuntabilitas pekerjaan infrastruktur stadion.
Suara Bobotoh: Evaluasi Vendor Adalah Kunci!
Situasi ini menarik perhatian pengamat hukum olahraga sekaligus Bobotoh vokal, Eko Noer Kristiyanto, atau yang akrab disapa Eko Maung. Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar janji manis atau optimisme dari manajemen, melainkan pihak yang memberikan kepastian mengenai waktu penyelesaian pekerjaan. “Ya yang menentukan kan bukan Adhit ya, maksudnya orang yang menjanjikan ke Adhit beres di tanggal sekian-sekian,” tegas Eko, Selasa (25/8/2026), menekankan perlunya melihat lebih dalam rantai tanggung jawab.
Eko menilai, Persib masih terbilang beruntung karena pertandingan play-off ACL 2 ini digelar tanpa penonton. Kondisi ini membuat perpindahan venue tidak menimbulkan dampak sebesar apabila laga tersebut diwarnai riuhnya kehadiran Bobotoh. “Evaluasinya lebih internal ya, untung gak pakai penonton ini. Kan pindah-pindah venue gini kalau pakai penonton repot ya, melibatkan banyak orang, izin keramaian,” jelas Eko, menyoroti kompleksitas jika Bobotoh harus berpindah lokasi.
Absennya penonton memang membuat persoalan perpindahan stadion relatif lebih mudah ditangani, namun Eko menegaskan bahwa situasi ini tidak seharusnya membuat Persib mengabaikan evaluasi terhadap kinerja perbaikan GBLA. “Ini mah diuntungkan dengan gak ada penonton, maka pindah venue gak terlalu merepotkan dan dampak publiknya juga minim, beruntung ya,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa keberuntungan tidak boleh menutupi kelemahan sistem.
Pentingnya Akuntabilitas dan Reputasi Klub
Lebih lanjut, Eko Maung meminta Persib ke depan memiliki perhitungan waktu yang lebih akuntabel ketika menyerahkan pekerjaan kepada pihak ketiga. Terlebih, pekerjaan perbaikan rumput adalah jenis pekerjaan yang secara teknis dapat diperkirakan tahapan dan waktu pengerjaannya dengan presisi. “Tapi next time harus bisa dievaluasi, harus ada perkirakan waktu yang akuntabel. Gak selesai karena bencana alam itu bisa dimaklumi tapi kalau hal faktor manusia, faktor pengerjaan yang bisa diukur ya jangan ya,” tuturnya, memberikan garis batas antara keadaan darurat dan kelalaian yang bisa dihindari.
Ketika vendor gagal memenuhi target waktu, terutama jika vendor tersebut bekerja untuk PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB), maka kelalaian ini secara langsung menyeret nama Persib. “Kalau itu vendor kan berarti kerja ke PT PBB, pengelolaan semua di Persib sekarang. Jadi kelalaian vendor dan lain sebagainya terkait pengerjaan itu kan yang kena dampak Persib, yang dicibir publik Persib,” jelasnya, menunjukkan bahwa reputasi klub menjadi taruhan.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap vendor menjadi sangat krusial. Bukan semata-mata untuk mencari kambing hitam atau pihak yang harus disalahkan, tetapi untuk memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang, terutama saat Persib membutuhkan stadion dalam pertandingan penting. “Jadi kalau Persib mau namanya selamat ya dievaluasi yang kerja buat mereka,” tutup Eko, menandaskan urgensi tindakan perbaikan ke depan.
Pelajaran Berharga untuk Masa Depan
- Transparansi dan Akuntabilitas: Persib perlu lebih transparan dalam proses pemilihan dan pengawasan vendor, serta menuntut akuntabilitas tinggi dari setiap pekerjaan yang dilakukan.
- Perhitungan Waktu yang Presisi: Untuk pekerjaan teknis yang dapat diukur, estimasi waktu harus lebih realistis, didasari data, dan dipertanggungjawabkan oleh pihak pelaksana.
- Dampak Reputasi Klub: Kelalaian pihak ketiga akan selalu berdampak pada citra dan reputasi Persib di mata Bobotoh dan publik, sehingga perlu penanganan yang serius.
- Mitigasi Risiko: Memiliki rencana cadangan dan alternatif venue yang siap digunakan jika terjadi kendala tak terduga adalah langkah proaktif yang wajib dipersiapkan.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com