Kabarmaung.com - Di pesisir Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, ada kisah menarik tentang seorang pria yang menjalani dua kehidupan dengan semangat yang membara. Ia adalah Rizal Faisal (43), seorang nakhoda sejati yang tak hanya piawai menaklukkan ombak, tetapi juga seorang pemimpin militan di lautan biru Bobotoh Persib. Dari derak kayu perahu hingga gemuruh tribun, Rizal membuktikan bahwa gairah dan dedikasi bisa bersanding harmonis.
Siang itu, di Dermaga 1 PPNP Palabuhanratu, suara derak perahu yang tertambat berpadu dengan deburan ombak dan aroma garam laut. Di tengah hiruk pikuk nelayan, Rizal Faisal duduk tenang, memancarkan aura seseorang yang mengenal setiap jengkal perairan ini layaknya punggung tangannya sendiri. Bagi Rizal, dermaga ini bukan sekadar tempat mencari rezeki, melainkan panggung kehidupannya yang utama.
Rizal Faisal: Sang Nakhoda di Tengah Gelombang Bisnis Perahu
Bisnis penyewaan kapal bagi para pemancing menjadi tulang punggung Rizal. Pelanggannya datang dari berbagai daerah, membawa beragam ekspektasi. Menanggapi pertanyaan tentang harga sewa perahu yang kerap membuat wisatawan penasaran, Rizal memberikan penjelasan yang transparan.
“Itu bervariasi sih, tergantung ininya apa namanya, tergantung jenis mesinnya juga, tergantung jenis kapalnya juga,” tutur Rizal saat ditemui di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP). Untuk pemancing yang menginginkan kenyamanan ekstra dengan kapal bermesin diesel, tarif yang dipatok Rizal berkisar Rp6 juta untuk perjalanan pulang-pergi. Angka ini mencerminkan fasilitas dan pengalaman premium yang ditawarkan.
Namun, bagi kelompok yang lebih kecil atau yang mencari opsi lebih hemat, Rizal merekomendasikan perahu jenis Congkreng. “Tarifnya antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu perorang, namun menyesuaikan dengan spot mancing,” jelasnya. Perahu ini ideal untuk lima orang, termasuk juru mudi atau kapten.
Meskipun persaingan usaha penyewaan kapal semakin ketat, Rizal tetap memandang bisnis ini dengan optimisme tinggi. Ia percaya bahwa potensi laut Palabuhanratu masih sangat kuat untuk menarik minat para penghobi mancing dari berbagai kota besar. “Sebetulnya sih masih menjanjikan ya, itu kan apalagi cuacanya bagus gitu kan, ikan juga banyak gitu,” ungkapnya dengan yakin.
Berbagai spot mancing favorit pun disebutnya, seperti Karang Hantu, Ujunggenteng, dan Karang Bolong. Di sana, para pemancing berkesempatan mendapatkan ikan-ikan besar seperti GT (Giant Trevally), Tuna, atau bahkan Marlin yang di sini dikenal dengan nama lokal Jangilus.
Dari Lautan Biru Menuju Tribun Biru: Panglima Viking Palabuhanratu
Di balik rutinitasnya sebagai nakhoda, Rizal memiliki sisi hidup lain yang tak kalah intens, yakni sepak bola. Ia bukan sekadar penonton, melainkan sosok yang sangat dihormati di kalangan suporter Persib Bandung. Sejak resmi diangkat menjadi Panglima Viking Palabuhanratu pada tahun 2014, Rizal mendedikasikan waktu dan energinya untuk mendukung Maung Bandung.
Saat disinggung mengenai seberapa lama ia telah mengemban tanggung jawab memimpin komunitas suporter tersebut, Rizal menjawab singkat, “Lumayan lama juga sih.” Kecintaannya pada Persib membawanya melakukan perjalanan lintas provinsi. Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat harus menempuh jarak jauh hingga ke Madura, demi mendukung langsung Persib berlaga melawan Madura United. Sebuah bukti militansi yang tak perlu diragukan.
Hingga hari ini, semangat itu tak pernah surut. Ketika ia tak sempat hadir langsung di stadion, Rizal akan mengumpulkan massa untuk mengadakan acara nonton bareng (nobar) di GOR Palabuhanratu. Kegiatan ini menjadi wadah bagi Bobotoh di Palabuhanratu untuk tetap merasakan atmosfer pertandingan dan menyalurkan dukungan kepada tim kesayangan.
Keseimbangan Hidup: Ayah Tangguh, Bobotoh Sejati
Di balik citranya sebagai pria tangguh di laut dan militan di tribun stadion, Rizal adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab. Ia kini memikul amanah membesarkan tiga orang anak. Kesibukannya memutar roda bisnis di dermaga adalah ikhtiarnya untuk memastikan masa depan anak-anaknya. Saat ini, anak sulungnya sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah, sementara si bungsu masih bersekolah di tingkat dasar (SD).
Bagi Rizal, setiap hari di dermaga adalah tentang keseimbangan. Ia harus memastikan kapal-kapalnya siap berlayar, para pemancing pulang dengan senyum, dan di rumah, ia tetap menjadi sosok ayah yang bisa diandalkan. Peran-peran ini ia jalani dengan konsisten, menjaga napasnya tetap mengalir di tanah kelahirannya, Palabuhanratu, dengan semangat seorang Bobotoh sejati yang tak pernah padam.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com