Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal

Kabarmaung.com - Persib Bandung, raksasa sepak bola Indonesia, tak pernah berhenti menebar ambisi untuk menjadi klub terdepan, baik dari segi prestasi maupun kiprah di bursa transfer. Citra sebagai klub dengan kekuatan finansial yang kokoh kerap melekat. Namun, di balik semua gemerlap itu, sebuah pekerjaan rumah besar di sektor Infrastruktur dinilai masih jauh dari kata "tuntas" oleh banyak pihak, terutama para pemerhati dan Bobotoh setia.

GBLA dan Lapangan Latihan: Antara Harapan dan Realita

Langkah maju Persib memang patut diacungi jempol dengan keberhasilan mengambil alih pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) selama tiga dekade sejak akhir 2024. Di area sekitar stadion, manajemen juga telah membangun lapangan pendamping yang diharapkan menjadi pusat latihan tim. Sebuah capaian yang menandai komitmen terhadap pengembangan fasilitas klub.

Namun, harapan itu ternyata belum sepenuhnya sejalan dengan realita di lapangan. Fasilitas tersebut, khususnya lapangan latihan pendamping, belum memenuhi standar ideal untuk sebuah klub profesional. Bahkan, pelatih Persib, Igor Tolic, secara terbuka mengakui bahwa kondisi lapangan tersebut belum optimal untuk menunjang persiapan tim menghadapi ketatnya kompetisi. Ini menjadi indikasi awal bahwa "PR" infrastruktur Persib masih panjang.

Janji Manis Pusat Latihan yang Tak Kunjung Terealisasi

Lebih dari sekadar lapangan pendamping, fasilitas krusial lain seperti pusat latihan (training center) yang terpadu, pusat kebugaran (gym) modern, hingga sport center komprehensif yang telah lama dijanjikan manajemen, kini masih menjadi angan-angan. Pernyataan-pernyataan manis mengenai pembangunan fasilitas ini sudah kerap terdengar selama beberapa tahun terakhir, namun realisasinya belum juga terlihat wujudnya.

Sorotan semakin tajam ketika kondisi rumput Stadion GBLA sendiri sedang dalam tahap perbaikan intensif menjelang musim 2026/2027. Ini menambah daftar panjang evaluasi terhadap kesiapan infrastruktur Maung Bandung yang ingin tampil sebagai klub profesional sejati di kancah nasional maupun internasional.

Eko Maung: Profesionalisme Bukan Sekadar Legalitas

Bobotoh senior yang sangat dihormati, Eko Noer Kristiyanto atau akrab disapa Eko Maung, memberikan pandangan tajam mengenai hal ini. Menurutnya, ukuran profesionalisme sebuah klub tak hanya terbatas pada prestasi di lapangan hijau atau legalitas perusahaan semata. Infrastruktur yang memadai dan berstandar tinggi adalah cerminan nyata dari sebuah klub yang profesional.

"Kalau kita ngomongin klub profesional itu kan banyak aspek, diantaranya yang paling penting legalitas Persib sudah oke," kata Eko. Namun, ia menegaskan, "Tapi yang kasat mata bisa dinilai sama orang itu terkait infrastruktur ya, stadium aja sebetumnya bukan punya sendiri, latihan juga bukan tempat sendiri, masih dalam pembangunan kan. Kasat mata, suporter bisa menilai jadi apa tidaknya."

Eko Maung bahkan membandingkan Persib dengan sejumlah klub lain di Indonesia yang, meski belum memiliki stadion pribadi, sudah lebih dulu berinvestasi pada fasilitas penunjang seperti lapangan latihan, pusat kebugaran, dan sport center milik sendiri. Bali United adalah salah satu contoh yang ia sebutkan.

Oleh karena itu, Eko Maung dengan tegas menilai bahwa pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi prioritas utama manajemen. Apabila Persib benar-benar ingin naik kelas menjadi klub profesional berstandar internasional, investasi di sektor ini mutlak diperlukan. "Jadi harus punya, harus diutamakan. Ini masalah reputasi, bonafit, klub yang selama ini katanya finansialnya kuat harus ke sana," tegasnya.

Mengapa Janji Infrastruktur Tertunda?

Meskipun memahami bahwa pembangunan fasilitas memerlukan proses panjang, termasuk negosiasi dan pengadaan, Eko Maung menekankan bahwa publik berhak mempertanyakan realisasi dari berbagai janji yang telah disampaikan manajemen. Pernyataan-pernyataan tersebut sudah muncul sejak tahun lalu, namun progresnya dinilai masih minim. "Ini mungkin gak ada progres, gitu aja jadi Bobotoh menilai dan ini keinginan lebih baik buat klub," ujarnya.

Perbedaan antara aspek manajemen atau SDM yang sulit diukur dari luar, dengan pembangunan infrastruktur yang kasat mata, menjadi poin penting bagi Eko. Infrastruktur adalah bukti nyata komitmen yang bisa langsung dilihat dan dirasakan Bobotoh.

Pergeseran cara pandang Bobotoh juga menjadi catatan menarik. Mereka kini tidak lagi hanya terpaku pada hasil pertandingan atau isu transfer pemain semata. "Jadi memang wajar dan ini bagus tren di Bandung suporter sekarang bukan cuma bicara tentang hasil pertandingan atau rumor pemain baru, mereka mampu mengkritisi aspek lain selain pertandingan termasuk soal FIFA ban yang belum dicabut itu bagus," pungkas Eko.

Waktu terus berjalan, dan ambisi Persib untuk menjadi klub elite tak bisa hanya didukung oleh prestasi di lapangan. Fondasi infrastruktur yang kokoh adalah penopang utama menuju profesionalisme sejati. Janji-janji harus segera diwujudkan agar kepercayaan Bobotoh terus terpupuk dan Persib benar-benar bisa berdiri sejajar dengan klub-klub top dunia.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
  • Ambisi Besar Persib Vs Realitas Infrastruktur Belum Ideal
Posting Komentar
Tutup Iklan