Kabarmaung.com - Kota Bandung dan negara Maroko mungkin terdengar memiliki sedikit benang merah dalam sejarah, sebuah fakta yang jarang terhubung. Namun, bagi para Bobotoh sejati, menyebut 'pria Maroko' di Bandung akan langsung melontarkan satu nama yang abadi di hati mereka. Sosok itu tak lain adalah Redouane Barkaoui, seorang legenda yang menorehkan jejak tak terlupakan dengan caranya yang unik.
Lahir di Casablanca, Maroko, pada 4 April 1979, Barkaoui datang ke Bandung dengan reputasi sebagai penyerang yang memiliki naluri gol tajam. Tak hanya berposisi sebagai striker murni, ia juga dikenal sebagai pemain serbaguna yang fasih berperan sebagai second striker hingga gelandang serang. Kehadirannya di skuad Maung Bandung pada musim 2006, di bawah arahan pelatih Arcan Iurie, membawa angin segar dan harapan besar bagi Bobotoh.
Jejak Singkat Penuh Makna di Persib
Meskipun kebersamaannya dengan Persib tergolong singkat, hanya berlangsung hingga tahun 2008, dampak yang diberikan Barkaoui sungguh membekas. Selama dua musim berseragam Pangeran Biru, ia mencatatkan 55 pertandingan dengan koleksi 15 gol. Angka-angka ini membuktikan kualitasnya sebagai mesin gol yang patut diperhitungkan. Namun, bukan hanya gol-golnya yang membuat Bobotoh jatuh cinta dan namanya selalu dikenang hingga kini.
Redouane Barkaoui memiliki ciri khas unik yang sangat lokal, sebuah selebrasi gol yang tak ada duanya: tari Jaipong. Bagaimana bisa seorang pria kelahiran Maroko, dari benua Afrika, bisa memeragakan tarian tradisional Jawa Barat dengan begitu luwes dan penuh semangat?
Selebrasi Jaipong, Identitas Abadi Sang Striker Maroko
Usut punya usut, kekaguman Barkaoui pada budaya lokal tumbuh selama ia menetap di Bandung. Ia sering kali memperhatikan dan mempelajari gerakan tari Jaipong, hingga akhirnya memutuskan untuk menjadikan tarian tersebut sebagai bentuk perayaan golnya. Setiap kali berhasil menggetarkan jala lawan, Barkaoui akan berlari ke sudut lapangan, lalu dengan bangga melenggak-lenggokkan tubuhnya selama beberapa detik, memeragakan gerakan tangan dan tubuh layaknya penari Jaipong profesional.
Aksi inilah yang membuatnya begitu identik dengan Persib dan sangat dicintai Bobotoh. Setiap kali ia mencetak gol, para suporter di tribun selalu menantikan momen 'Jaipongan' tersebut. Sebab, tarian itu bukan sekadar selebrasi, melainkan penanda bahwa sang idola baru saja mencatatkan namanya di papan skor, menambah kegembiraan di stadion.
Kisah Setelah Bandung dan Legasi Unik
Kini, selebrasi ikonik itu tinggal menjadi kenangan manis dalam Sejarah Klub. Barkaoui sendiri telah lama gantung sepatu dari dunia si kulit bundar. Setelah meninggalkan Bandung pada 2008, ia sempat melanjutkan petualangan kariernya di Liga Malaysia bersama Pahang FA. Ia juga sempat kembali ke Indonesia untuk membela beberapa klub, antara lain Persiwa Wamena (2009), Pelita Jaya (2009-2010), hingga Persela Lamongan (2010-2011). Redouane Barkaoui akhirnya menutup karier di klub tanah kelahirannya, Wydad de Fes, dan kini beralih profesi menjadi seorang pelatih sepak bola.
Hingga detik ini, Redouane Barkaoui tetap memegang status sebagai satu-satunya pemain berdarah Maroko yang pernah membela Persib Bandung. Setelah era Barkaoui, banyak pemain asing datang dan pergi, namun belum ada lagi talenta asal Maroko yang mampu menyamai jejak dan karismanya di tanah Pasundan. Ia bukan hanya seorang pencetak gol, tetapi juga jembatan budaya yang menyatukan hati Bobotoh dengan keindahan tari Jaipong.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com