Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3

Kabarmaung.com - Super League 2025/26 telah usai, dan Persija Jakarta harus puas mengakhiri musim di posisi ketiga klasemen akhir. Meskipun finis di tiga besar, Macan Kemayoran tertinggal delapan poin dari sang juara Persib Bandung dan runner-up Borneo FC Samarinda yang sama-sama mengoleksi 79 angka. Sebuah performa yang menimbulkan pertanyaan, mengingat potensi besar skuad asuhan Mauricio Souza.

Raja Tandang yang Pincang di Kandang Sendiri?

Musim 2025/26 menyajikan statistik menarik dari Persija Jakarta. Dari total 71 poin yang mereka kumpulkan, 37 poin didapatkan saat bermain di kandang, sementara 34 poin lainnya diraih dari laga tandang. Fakta yang mengejutkan adalah, Persija menjadi tim dengan perolehan poin tandang terbanyak di liga. Mereka bahkan mengungguli Borneo FC Samarinda yang hanya meraup 33 poin tandang, serta Persib Bandung dengan 32 poin tandang. Ini menunjukkan mentalitas dan kekuatan luar biasa Macan Kemayoran saat bertamu ke markas lawan.

Namun, kekuatan impresif di laga tandang ini berbanding terbalik dengan performa mereka di laga kandang. Di hadapan pendukung sendiri, Persija justru kalah jauh dari para pesaingnya. Persib Bandung berhasil mengumpulkan 47 poin di kandang, sementara Borneo FC Samarinda mencatatkan 46 poin. Perbedaan signifikan ini menjadi penentu utama kegagalan Persija untuk bersaing ketat dengan Persib dan Borneo dalam perebutan gelar juara liga. Benteng kandang yang seharusnya menjadi kekuatan, justru menjadi titik lemah.

Analisis Pelatih Mauricio Souza dan Penyesalan di Rumah

Pelatih Persija, Mauricio Souza, tidak menampik bahwa performa di kandang menjadi faktor krusial yang menentukan posisi akhir timnya di kompetisi. "Mengenai musim ini, saya rasa kami seharusnya bisa tampil lebih baik saat bermain di kandang. Saya rasa itulah yang menentukan posisi akhir di kompetisi," ujarnya, seperti dikutip dari laman klub.

Souza menambahkan bahwa secara historis, tim yang tangguh di luar kandang memiliki keuntungan besar, dan Persija membuktikan diri sebagai tim tandang terbaik. Namun, fakta pahitnya adalah, "Kami meraih poin terbanyak di laga tandang. Namun, di kandang sendiri, kami kehilangan sekitar 11 poin. Belum lagi beberapa pertandingan di mana ada pemain kami yang terkena kartu merah, yang akhirnya merugikan kami," jelas Souza. Kehilangan 11 poin di kandang adalah angka yang sangat besar dan bisa mengubah peta persaingan di papan atas.

Selain performa yang inkonsisten, Persija juga kerap terkendala oleh situasi di mana mereka terpaksa "terusir" dan harus bermain di luar Jakarta untuk laga kandang. Hal ini tentu mengurangi esensi dari keuntungan bermain di markas sendiri dengan dukungan penuh suporter. Situasi ini, ditambah dengan dua kekalahan dan empat hasil imbang di kandang, semakin memperjelas mengapa benteng Macan Kemayoran kurang kokoh musim ini. Sementara itu, Persib dan Borneo sukses memaksimalkan dukungan suporter di rumah sendiri untuk meraup poin maksimal, sebuah strategi yang gagal diterapkan Persija.

Kegagalan Persija menjadi juara Super League 2025/26 bukan karena performa buruk secara keseluruhan, melainkan karena ketidakmampuan mereka mengubah "kandang" menjadi "neraka" bagi lawan, layaknya yang dilakukan oleh sang juara Persib Bandung. Pelajaran berharga bagi Macan Kemayoran untuk musim depan: memaksimalkan setiap laga kandang adalah kunci menuju tahta juara.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
  • Persija Gagal Juara Liga Ini Alasan Sebenarnya di Balik Peringkat 3
Posting Komentar
Tutup Iklan