Kabarmaung.com - Gemuruh Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga krusial Persib Bandung kontra Arema FC pada Jumat (24/4/2026) malam menyisakan cerita yang lebih dari sekadar pertandingan. Sebuah spanduk berukuran besar dengan tulisan "Shut Up KDM" tiba-tiba muncul di tribun utara pada babak kedua, sontak menyita perhatian ribuan pasang mata, baik di stadion maupun di layar kaca. Pesan singkat namun tajam ini langsung memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan, terutama karena ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Kemunculan banner tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Arland Sidha, seorang Bobotoh yang juga pengamat Politik dari Unjani, spanduk itu merupakan manifestasi dari keresahan yang telah lama bergejolak di kalangan Bobotoh. "Pertama kita flashback dulu, ada keresahan apa soal Persib? Sebenarnya kalau kita lihat Persib ini punya modal sosial yang tinggi, artinya modal sosial ini berupa suporter dan Bobotoh," ujar Arland, menjelaskan bahwa Persib memiliki basis penggemar yang luar biasa loyal dan masif, sebuah 'modal sosial' yang sangat berharga.
Ketika Politik Mencoba Menyusup ke Lapangan Hijau
Arland menyoroti adanya persepsi kuat di kalangan suporter mengenai keterlibatan figur politik dalam dinamika Persib. Keterlibatan ini, tanpa disadari atau tidak, berpotensi menumbuhkan tafsir bahwa klub kebanggaan Jawa Barat tersebut sedang dimanfaatkan untuk kepentingan di luar olahraga murni. "Saya pikir ada pemahaman di tengah-tengah Bobotoh, kehadiran sosok dalam tanda kutip adalah elit politik atau kepala daerah yang pemahaman di masyarakat melihat bahwa ada kepentingan-kepentingan, saya tidak tahu kepentingan apa yang mungkin untuk elektabilitas," jelasnya.
Situasi ini menjadi pelik ketika batas antara dukungan murni dan kepentingan politik menjadi kabur. Arland menegaskan bahwa tidak ada masalah jika seorang politisi memang tulus mencintai Persib sejak awal dan mendukungnya sebagai seorang suporter biasa. Namun, permasalahan muncul ketika dukungan tersebut dinilai mulai masuk ke ranah yang lebih jauh, seolah-olah klub dijadikan 'panggung' untuk mendulang popularitas atau elektabilitas. "Pertanyaannya adalah bagaimana dengan politisi yang memang menyukai Persib? Memang dari awal dia sudah menyukai Persib tapi tidak melibatkan Persib sebagai alat politik, walaupun tidak secara eksplisit," tambahnya.
Polemik Unggahan Media Sosial dan Kekecewaan Bobotoh
Sorotan tajam Arland kemudian mengarah pada sosok Dedi Mulyadi, yang dinilai Bobotoh terlalu jauh masuk dalam narasi Persib, terutama melalui aktivitas di media sosial. Kekecewaan Bobotoh memuncak setelah adanya unggahan terkait bantuan dana untuk Persib dari Maruarar Sirait sebesar Rp1 miliar, sebelum laga melawan Dewa United. Unggahan ini dianggap kontradiktif dengan pernyataan Dedi Mulyadi sebelumnya.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi sempat memberikan kesan positif di mata Bobotoh dengan menyatakan tidak akan ikut campur dalam urusan Persib karena klub tersebut adalah entitas profesional. Ia bahkan pernah berujar hanya akan hadir saat Persib juara dan konvoi merayakan kemenangan. "Betul seolah-olah ingin cari panggung, masyarakat kan melihatnya seperti itu ya. Tapi kita tahu juga pak Dedi dari awal beliau berstatemen bahwa Persib itu tim profesional, saya mah hadir kalau juaranya aja pas konvoi begitu beliau bilang. Jadi ada statemen yang ditangkap Bobotoh sudah bagus," ungkap Arland, menggambarkan betapa pernyataan awal KDM telah menciptakan ekspektasi positif.
Namun, unggahan terkait bantuan dana tersebut secara tidak langsung merusak persepsi positif itu. Publik kemudian melihat adanya upaya untuk "mencari panggung" di balik dukungan tersebut. Arland berpendapat bahwa unggahan semacam itu seharusnya tidak perlu dipublikasikan secara luas, untuk menghindari munculnya persepsi liar di kalangan Bobotoh yang menganggap Persib dijadikan alat politik. "Kemarin kalau kita lihat di sosial media, karena ada Ara yang memberikan bantuan, sebenarnya ya sudah tidak perlu di-up, akhirnya orang menganggap bahwa Persib dijadikan alat politik," pungkasnya.
Pesan Universal dari Bobotoh untuk Semua Elit Politik
Meskipun spanduk tersebut secara spesifik menyebut "KDM", Arland menekankan bahwa pesan yang terkandung di baliknya bersifat lebih universal. Ia menegaskan, secara umum, spanduk itu adalah sebuah peringatan keras yang ditujukan kepada seluruh elit politik dan pejabat publik. Intinya adalah agar mereka tidak menggunakan Persib sebagai alat politik, apalagi di tengah situasi ketika tim sedang membutuhkan dukungan murni dari suporter.
Para Bobotoh, dengan loyalitas yang tak tergoyahkan, ingin memastikan bahwa Persib tetap menjadi kebanggaan Jawa Barat yang berdiri independen dari kepentingan politik praktis. Mereka ingin klub fokus pada prestasi di lapangan tanpa harus terjebak dalam pusaran intrik politik yang bisa mengganggu konsentrasi dan kebersamaan tim. Spanduk itu adalah seruan untuk menjaga kemurnian dukungan dan semangat kebersamaan yang telah lama terbangun di antara Persib dan para pendukung setianya.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com