Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib

Kabarmaung.com - Dunia sepak bola Indonesia kembali tercoreng oleh insiden tidak terpuji. Bek muda Persebaya Surabaya asal Sentani, Papua, Mikael Alfredo Tata, menjadi korban serangan Rasisme di media sosial setelah pertandingan krusial melawan Persib Bandung pada Senin (2/3) lalu. Peristiwa memilukan ini memicu keprihatinan luas dan mengingatkan kita akan persoalan akut yang masih mengakar di masyarakat.

Komentar-komentar bernada rasis yang merendahkan dan mengaitkan Mikael Tata dengan stereotip terhadap orang Papua terlihat membanjiri lini masa media sosial. Tindakan ini tidak hanya menyakiti individu, tetapi juga mencederai nilai-nilai sportivitas dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam olahraga.

Rasisme: Luka Lama yang Terus Menganga di Sepak Bola Kita

Insiden yang menimpa Mikael Tata bukanlah kasus pertama. Menurut Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, praktik rasisme masih sering terjadi di ruang publik Indonesia. "Selalu saja terulang, lagi-lagi ruang publik kita dikotori tindakan rasis," ungkap Radius, Rabu (11/3/2026), menunjukkan betapa persistennya masalah ini.

Radius menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme kerap mengarah pada kelompok masyarakat berkulit gelap, khususnya saudara-saudara kita yang ada di wilayah Timur, dengan masyarakat Papua sebagai yang paling sering menjadi korban. Fenomena ini menunjukkan adanya pola pikir diskriminatif yang berbahaya dan tidak sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Akar Permasalahan Rasisme dan Dampaknya

Pandangan rasisme semacam ini, menurut Radius, tidak bisa dilepaskan dari warisan pola pikir kolonial yang masih tersisa hingga hari ini. Dalam perspektif kolonial, masyarakat kulit hitam seringkali ditempatkan sebagai kelompok yang dianggap belum maju, terbelakang, atau bahkan dijadikan bahan hinaan dan lelucon. Mentalitas ini telah mengendap sekian lama, membentuk kebiasaan untuk menghina dan merendahkan siapa saja yang dianggap berbeda.

"Persoalan rasisme hingga kini belum menjadi perhatian serius negara, sehingga tindakan merendahkan kelompok etnis tertentu masih kerap terjadi di ruang publik. Ini persoalan akut bangsa ini," tegasnya. Jika dibiarkan, tindakan rasisme akan terus mencemari ruang publik dan merusak tatanan sosial yang harmonis.

Pentingnya Kesetaraan dan Peran Negara dalam Mencegah Rasisme

Padahal, salah satu fondasi utama negara demokratis adalah pengakuan atas kesetaraan di tengah berbagai perbedaan. Indonesia, sebagai negara multikultural dengan beragam suku, agama, dan ras, tidak akan bisa berkembang optimal jika praktik diskriminasi seperti rasisme masih terus terjadi dan dibiarkan begitu saja. Kemanusiaan harus menjadi nilai utama dalam membangun keindonesiaan, di mana setiap individu, dengan warna kulit atau latar belakang apa pun, harus diposisikan sebagai bangsa yang sama dan memiliki hak yang setara.

Radius menegaskan bahwa negara perlu hadir secara lebih serius untuk mengurai persoalan ini. Salah satu caranya adalah melalui pendidikan yang komprehensif dan penguatan nilai-nilai budaya yang menjunjung tinggi kesetaraan dan toleransi. Tanpa intervensi yang kuat, insiden-insiden rasisme akan terus menjadi noda hitam di sejarah bangsa ini.

Dukungan Penuh untuk Mikael Tata dan Harapan untuk Perubahan

Pihak UMSURA, sebagai almamater Mikael Alfredo Tata, menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan aksi rasisme yang menimpa mahasiswanya tersebut. Kampus dengan tegas mengecam segala bentuk diskriminasi rasial dan menyatakan dukungan penuh kepada Mikael Tata agar tetap fokus berkarya dan berprestasi, baik sebagai atlet maupun mahasiswa.

"UMSURA menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, pihak kampus berharap insiden serupa tidak lagi terulang serta menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat sikap saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia," pungkas perwakilan UMSURA. Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih aktif memerangi rasisme dan membangun lingkungan yang inklusif, terutama di dunia sepak bola.

Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
  • Jangan Diam! Bek Persebaya Alami Rasisme Usai Hadapi Persib
Posting Komentar
Tutup Iklan