Kabarmaung.com - Kabar mengejutkan datang dari otoritas Liga sepak bola Indonesia, I.League, yang memprediksi musim 2025/26 akan menjadi periode paling padat dan menantang bagi klub-klub terbaik tanah air. Juara dan runner-up Super League 2025/26 berpotensi besar untuk berlaga di empat kompetisi sekaligus! Ini tentu menjadi tantangan besar yang membutuhkan persiapan matang, baik dari sisi fisik pemain, kedalaman skuad, maupun strategi manajemen klub.
Empat Kompetisi Menanti: Sebuah Ambisi atau Beban?
Musim depan, klub-klub papan atas Indonesia tidak hanya berjuang di kancah domestik, tetapi juga di level regional dan kontinental. Mari kita bedah empat kompetisi yang kemungkinan akan diikuti oleh sang juara dan runner-up:
- Super League: Ini adalah kompetisi liga domestik utama yang selalu menjadi prioritas klub. Perebutan gelar juara tentu akan tetap sengit, namun dengan jadwal yang kian padat, konsistensi menjadi kunci.
- Piala Indonesia: Ada sinyal kuat bahwa Piala Indonesia, turnamen piala domestik, akan kembali digulirkan. Kehadiran turnamen ini menambah satu lagi agenda padat bagi tim.
- ASEAN Club Championship (ACC): Kompetisi antarklub se-Asia Tenggara ini menjadi ajang pembuktian dominasi regional. Regulasi AFF masih mewajibkan partisipasi juara dan runner-up liga domestik.
- Kompetisi Antarklub Asia (AFC): Meskipun belum bisa menembus level elite, wakil Indonesia akan berlaga di AFC Champions League (ACL) 2 (melalui playoff) dan AFC Challenge League (ACGL) (langsung fase grup), yang merupakan kompetisi level 2 dan 3 Asia.
Bayangkan, jika Persib Bandung berhasil menjadi juara atau runner-up Super League 2025/26, mereka harus siap menghadapi jadwal maraton yang menguras energi. Persiapan pra-musim dan strategi rotasi pemain akan menjadi kunci vital untuk menjaga performa di semua lini.
Drama ASEAN Club Championship: Belajar dari Pengalaman Lalu
Pada edisi 2024/25, PT LIB (sebelum menjadi I.League) sempat berupaya mengirim Malut United dan Persebaya Surabaya ke ACC, dengan alasan juara (Persib) dan runner-up (Dewa United) ingin fokus di kompetisi AFC. Namun, AFF menolak pengajuan tersebut, mengakibatkan Indonesia tidak memiliki perwakilan di ACC edisi perdana.
Kini, I.League memprediksi regulasi AFF tidak akan berubah. Artinya, jika Indonesia ingin berpartisipasi di ACC, maka juara dan runner-up Super League lah yang wajib mewakili. Ini berarti klub tidak bisa lagi 'memilih' kompetisi mana yang ingin diikuti, melainkan harus siap menghadapi semua tantangan yang ada.
Impian ACL Elite Masih Terganjal Peringkat Liga
Meskipun jadwal sangat padat, asa klub Indonesia untuk berlaga di kasta tertinggi kompetisi antarklub Asia, AFC Champions League (ACL) Elite, masih harus tertunda. Rendahnya ranking kompetisi Indonesia saat ini menjadi penghalang.
Super League Indonesia menempati peringkat ke-18 secara keseluruhan Asia dan ke-9 di Zona Timur. Sementara itu, ACL Elite hanya bisa diikuti oleh klub dari kompetisi domestik yang menduduki peringkat 1 hingga 7 di setiap zona. Akibatnya, wakil Indonesia masih akan berkutat di ACL 2 (melalui babak playoff untuk juara liga) dan ACGL (langsung fase grup untuk runner-up liga).
Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada peningkatan signifikan dalam kualitas dan performa liga secara keseluruhan agar Indonesia bisa mengirimkan wakilnya ke kompetisi klub paling bergengsi di Asia tersebut.
Prediksi I.League: Musim Panjang Penuh Perjuangan
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, mengakui bahwa musim depan akan menjadi tantangan berat. “Kemarin dalam pertemuan dengan klub disampaikan, bahwa memang agak berat nih musim depan. Juaranya ada potensi, sekali lagi, kalau tak terhindarkan juga harus bermain di banyak kompetisi,” jelas Asep.
Ia juga menambahkan, “Belum lagi kan, ada aspirasi soal apa? Turnamen liga (Piala Indonesia) dan lain-lain, kan. Jadi, memang itu bagaimana kami memastikan menyusun jadwal ini, bisa lebih baik.” Pernyataan ini menggarisbawahi kompleksitas dalam menyusun kalender kompetisi yang adil dan memadai bagi semua tim.
Klub-klub Indonesia, khususnya yang berhasil menempati posisi teratas, harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kedalaman skuad, manajemen cedera, dan kemampuan adaptasi terhadap jadwal padat akan menjadi kunci kesuksesan di musim yang penuh tantangan ini. Bukan hanya soal mental juara, tapi juga ketahanan fisik dan taktik yang mumpuni.
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com