Kabarmaung.com - Super League 2025/2026 semakin memanas! Persija Jakarta kembali harus menelan pil pahit setelah gagal meraih poin penuh di kandang sendiri, Jakarta International Stadium (JIS). Hasil imbang 1-1 melawan Dewa United pada pekan ke-25 tak hanya membuat Macan Kemayoran tertahan, tetapi juga memperlebar jarak mereka dengan pemuncak Klasemen, Persib Bandung. Pelatih Persija, Mauricio Souza, bahkan secara terbuka menyalahkan kualitas rumput JIS sebagai biang keladi kesulitan timnya. Apakah JIS benar-benar "angker" atau hanya sekadar alasan?
Laga yang berlangsung Minggu (15/3/2026) tersebut sejatinya sempat menjanjikan. Persija unggul lebih dulu berkat gol Emaxwell Souza di penghujung babak pertama. Namun, keunggulan itu tak bertahan lama di babak kedua. Alexis Messidoro berhasil menyamakan kedudukan untuk Dewa United pada menit ke-55, membuat skor akhir 1-1. Hasil ini tentu mengecewakan bagi pendukung Macan Kemayoran yang berharap tim kesayangan mereka bisa tancap gas di sisa musim.
Di saat yang bersamaan, duo papan atas lainnya, Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda, juga bermain imbang 1-1 di Stadion Segiri. Namun, bagi Persija, hasil di JIS ini terasa lebih berat. Kegagalan meraih tiga poin membuat posisi tiga besar klasemen Super League tak berubah. Persib Bandung masih kokoh di puncak dengan 58 poin, diikuti Borneo FC dengan 54 poin, dan Persija Jakarta di posisi ketiga dengan 52 poin. Andai saja Persija mampu memenangkan pertandingan, mereka akan memangkas jarak secara signifikan dengan Persib dan menyamai perolehan poin Borneo FC. Kesempatan emas pun melayang begitu saja.
Keluhan Rumput JIS: Alasan atau Fakta?
Mauricio Souza tidak menyembunyikan kekecewaannya pasca pertandingan. Pelatih asal Brasil ini secara terang-terangan menyoroti kondisi lapangan JIS yang disebutnya tidak ideal untuk pertandingan sekelas Super League. "Para pemain tahu itu dan mereka sadar diri. Akan tetapi, kondisi lapangan yang buruk itu tidak akan mendukung permainan yang kami berusaha tampilkan," ujar Souza. Ia menambahkan bahwa timnya kesulitan menguasai bola dan mengalirkannya dengan cepat karena permukaan rumput yang tidak rata. Pernyataan ini tentu memicu perdebatan, mengingat JIS adalah stadion megah yang digadang-gadang berstandar internasional.
Ini bukan kali pertama Persija gagal memaksimalkan laga kandangnya di JIS. Sebelumnya, mereka juga ditahan imbang 2-2 oleh Borneo FC. Secara total, dari enam pertandingan yang telah dimainkan di stadion tersebut musim ini, Persija hanya mampu meraih dua kemenangan dan empat kali hasil imbang. Hanya 10 poin dari maksimal 18 poin yang berhasil mereka kumpulkan. Sebuah catatan yang mengkhawatirkan bagi tim yang berambisi meraih gelar juara. Souza juga membandingkan performa timnya di JIS dengan laga tandang. "Kami gagal menang melawan Bali United di sini tetapi di kandang Bali United kami menang. Kami gagal menang atas Malut United di sini, namun di markas Malut United kami menang. Begitu pun saat melawan Dewa United," jelasnya, memperkuat argumennya tentang pengaruh lapangan.
Rekor Kurang Menggembirakan Persija di JIS
- Persija 4-0 Persita Tangerang
- Persija 1-1 Malut United
- Persija 1-1 Bali United
- Persija 2-1 PSM Makassar
- Persija 2-2 Borneo FC
- Persija 1-1 Dewa United
Kondisi lapangan JIS, jika memang benar menjadi faktor krusial, tentu menjadi PR besar bagi manajemen Persija. Apalagi dengan ketatnya persaingan di papan atas, setiap poin yang hilang akan sangat berharga. Sementara Persib Bandung terus berusaha menjaga konsistensinya di puncak, Persija harus mencari solusi agar "kutukan" JIS ini tidak semakin menghambat langkah mereka mengejar gelar juara Super League 2025/2026. Pertanyaan besar kini adalah, mampukah Macan Kemayoran bangkit dan membuktikan bahwa mereka bisa mengatasi segala tantangan, termasuk kondisi lapangan?
Ikuti terus berita terbaru Persib di Kabarmaung.com